Studi Banding Balai Besar Rehabilitasi ke Instalasi Penelitian Plasma Nutfah Perikanan Air Tawar

Print

 

 

 

Dalam rangka persiapan kegiatan keterampilan bagi residen, Balai Besar Rehabilitasi BNN melakukan studi banding di Instalasi Penelitian Plasma Nutfah Perikanan Air Kementerian Kelautan dan Perikanan di Cijeruk Bogor (1/2). Kegiatan ini diikuti oleh para staf beserta beberapa residen serta didampingi oleh Kasubag Keuangan, Humas dan Rumga, M. Fierzha Mucharom, M.Si. Psi.

Instalasi ini melakukan penelitian budidaya perikanan air tawar untuk  menghasilkan berbagai ikan unggul dan plasma nutfah ikan air tawar. Melalui kegiatan tersebut, petugas di instalasi Penelitain Plasma Nutfah Perikanan ini menjelaskan tata cara budidaya ikan air tawar yang baik mulai dari pembuatan kolam, pemilihan benih, pemilihan pakan serta perawatan ikan selama proses pembesaran. Anggota rombongan sangat antusis belajar dan berharap pengetahuan untuk mengembangkan  kegiatan vokasional budidaya ikan di Balai Besar Rehabilitasi BNN. Di akhir kegiatan, rombongan membeli bibit ikan nila untuk dibudidayakan di Balai Besar Rehabilitasi. 

Melalui kegiatan studi ini, diharapkan pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan untuk pengembangan kegiatan pembekalan keterampilan (vokasional) bagi para residen nantinya setelah proses rehabilitasi dan bekal sebelum pasca rehabilitasi (Iksan)

 

 

 

Pelayanan VCT bagi residen di Balai Besar Rehabilitasi BNN

Print

Pelayanan VCT  bagi residen di Balai Besar Rehabilitasi BNNBalai Besar Rehabilitasi BNN memberikan pelayanan berupa rehabilitasi penyalah narkoba secara terpadu baik pelayanan rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial kepada para pecandu dan penyalahguna narkoba. Salah satu pelayanan rehabilitasi medis yang diberikan yaitu  VCT (Voluntary Counseling Test), merupakan proses konseling pre- testing, konseling post-testing, dan testing HIV secara sukarela yang bersifat confidential. VCT diberikan kepada residen difasilitasi oleh konselor VCT, yang juga merupakan staf bagian medis Balai Besar Rehabilitasi BNN.

Alur VCT dimulai dari konseling Individu pre-test dilanjutkan dengan pemeriksaan darah dan diakhiri dengan terima hasil & konseling post-test. Seperti terlihat pada Selasa (25/1) di ruang detoksifikasi, dilakukan VCT kepada residen fase detoksifikasi. Kegiatan ini dimulai dengan seminar, lalu dilanjutkan dengan konseling pre-test.

 

Eko Winarsih, selaku konselor VCT sedang memberikan konseling pre-test kepada salah seorang residen, beliau memberikan pengetahuan tentang HIV, dan mendiskusikan mengenai kemungkinan hasil yang keluar serta bagaimana sikap residen dalam menghadapi hasil yang ada. Di akhir konseling, dibagikan formulir informed consent untuk dapat diisi dan ditanda tangani oleh residen. Selanjutnya residen diambil darah guna pemeriksaan laboratorium.

“Beberapa penyalahguna narkoba merupakan pengguna narkoba jenis jarum suntik yang notabene rentan dan beresiko tinggi terkena HIV. Itu kenapa perlunya diadakan VCT untuk semua residen yang rehab disini.” Ujar Eko di akhir kegiatan. (dewi)

Peran Keluarga sebagai Recovering Partner dalam Pemulihan

Print

200 

Ruangan Auditorium Balai Besar Rehabilitasi BNN siang ini, Sabtu (23/1) tampak ramai oleh keluarga residen yang akan mengikuti acara Family Support Group (FSG). Kegiatan FSG memang rutin diselenggarakan oleh Balai Besar Rehabilitasi BNN sekali dalam tiap bulannya. Family Support Group adalah suatu bentuk kelompok dukungan keluarga residen melalui kegiatan pertemuan sesama orang tua residen untuk berbagi perasaan, pengalaman, dan harapan orang tua. Dalam kegiatan Family Support Group (FSG) kali ini bertemakan Peran Keluarga sebagai Recovering Partner dalam Pemulihan.

 

Kegiatan yang dihadiri keluarga dari masing-masing rumah yang ada di Balai Besar Rehabilitasi BNN (House of Care, House of Change, House of Faith, House of Hope, dan House of Female) inidibuka dengan penampilan grup musik kulintang. Grup musik yang beranggotakan residen dan staf ini mendapatkan sambutan luar biasa dari para keluarga residen yang hadir siang itu. Dilanjutkan dengan sambutan dari Balai Besar Rehabilitasi BNN yang kali ini disampaikan oleh Ibu Ni Ketut Suartini selaku Kabid Rehabilitasi SosialSeminar  bertema Peran Keluarga sebagai Recovering Partner dalam pemulihan yang dibawakan oleh Dr. Esther M. L. Sinsuw, SpKj , psikater yang menangani rehabilitasi para pecandu narkoba.

Dalam paparannya, beliau menjelaskan The Cycle of Change, fase dimana residen awal masuk rehabilitasi dinamakan dengan Pre-Contemplation Stage lalu masuk ke Contemplation Stage dimana residen menyadari adanya masalah serta berpikir bagaimana menyelesaikannya. Fase selanjutnya yaitu Preparation Stage dimana residen mulai berpikir lebih ke masa depan dibanding masa lalu, serta kebanyakan mereka yang berada di fase ini mulai merencanakan untuk melakukan AKSI serta membuat penyesuaian sebelum memulai perubahan perilakunya. Masuk ke fase berikutnya, Action Stage dimana mereka mulai menampakkan perubahan perilaku. Langkah selanjutnya yakni Maintenance Stage, dimana perubahan yang dilakukan si residen tidak berakhir hanya pada AKSI dan jika tanpa komitmen yang kuat untuk bertahan, dapat segera akan mengalami Relapse (kekambuhan) dan kembali ke fase 1 atau 2. Kebanyakan yang berhasil bertahan, mereka melalui fase-fase ini beberapa kali sebelum benar-benar menjalankan keseluruhan fase minimal dengan sekali mengalami slip.

dr. Esther juga memberikan kiat dalam keluarga atau pasangan seorang addict ada beberapa hal yang harus kita ingat, “kita harus selalu berkomunikasi juga dengan teman dan kenalan mereka, membuat koneksi dengan keluarga lain (FSG), meningkatkan kegiatan yang menyehatkan, membuat aturan yang jelas dalam keluarga mengenai narkoba maupun hal lainnya, mendapatkan sebanyak mungkin pengetahuan mengenai narkoba.” dr. Esther menjelaskan sebelum menutup seminar.

Usai seminar, kegiatan FSG dilanjutkan dengan visit keluarga yang diadakan di Gedung Olah Raga (GOR). Para residen pun dapat berkumpul dan melepas kerinduan bersama keluarga. Dukungan keluarga sangat berperan bagi residen dalam menjalani program rehabilitasi. Kegiatan Family Support Group diharapkan dapat memberikan edukasi dan informasi kepada orang tua residen tentang dunia adiksi dan proses pemulihan setiap residen.  Selain itu juga menjadi forum bagi orang tua residen untuk sharing pengalaman, saling menguatkan dan memotivasi melalui sharing dan diskusi. Setiap keluarga bisa menjadi partner bagi keluarga lain agar kuat dan tabah serta setia mendampingi korban penyalahguna narkoba menjalani program pemulihan. 

 

 

 

Materi Identifikasi Proses Relapse dalam Kegiatan Therapeutic Session Residen

Print

Materi Identifikasi Proses Relapse dalam Kegiatan Therapeutic Session Residen Dalam proses rehabilitasi penyalahguna atau pecandu narkoba tidak hanya diharapakan pulih, namun setelah menyelesaikan program rehabilitasi diharapakan mampu mempertahankan kepulihannya. Pembekalan mengenai identifikasi  relapse (kekambuhan) pun  sangat penting  bagi residen yang sedang menjalani program rehabilitasi.  Demikian materi mengenai Identifikasi Proses Relapse yang disampaikan dalam kegiatan Therapeutic Session oleh  Ismet dari RS. Dr. H Marzoeki Mahdi Bogor pada hari Selasa (19/1) di Gedung Serba Guna Balai Besar Rehabilitasi BNN Lido Bogor.

Relapse (kekambuhan) erat kaitannya dengan dunia adiksi. Dalam penyalahgunaan narkoba kemungkinan relapse selalu ada selama pecandu masih hidup Relapse sendiri merupakan masa pengguna/pecandu kembali menggunakan narkoba.  Banyak hal yang mengakibatkan seorang pecandu kembali menggunakan narkoba, salah satunya bergaul karib dengan pecandu aktif, status emosi yang negatif atau mengalami setres dan juga hal-hal yang mengingatkan pecandu pada narkoba yang sering digunakannyaPencegahan relapse merupakan satu elemen penting dalam program rawatan atau pemulihan. Oleh karena itu pencegahan relapse dapat diidentifikasi melalui faktor-faktor terjadinya relapse.

Kegiatan diawali pretest mengenai materi yang akan dibawakan kemudian dilanjutkan materi yaitu beberapa hal yang harus diperhatikan oleh seorang pecandu akan kemungkinan terjadinya relapse setelah keluar dari rehabilitasi, yaitu perubahan sikap pecandu dimana pecandu tersebut tidak berpartisipasi pada recovery program serta merasa bahwa daily activity sangat membosankan dan dapat menimbulkan stres; kehilangan struktur rutinitas; kesulitan mengambil keputusan; hilangnya pilihan alternatif dalam mengatasi masalah, struktur sosial yang dibentuk mengalami kemunduran.

Residen antusias dan aktif mengikuti seminar tersebut. Berbagai pertanyaan pun menggulir demi satu pertanyaan baik residen baik female maupun male.  Diakhir seminar, dibagikan kembali post test kepada residen mengenai topik materi yang telah diberikan. Diharapkan dengan adanya seminar ini, residen dapat mengenali gejala-gejala relapse dan cara mengatasinya sehingga residen mampu mempertahankan kepulihannya untuk tidak kembali menggunakan narkoba.  

 

 

 

Page 1 of 17