HomeBerita

 Badan Narkotika Nasional (BNN) mencanangkan tahun 2014 sebagai tahun menyelamatkan pengguna narkoba. Kenapa perlu ada pencanganan? Karena mengingat saat ini jumlah pengguna  Narkoba di Indonesia berjumlah 4 juta lebih. Untuk itu, perlu langkah konkrit dalam menekan jumlah pengguna narkoba tersebut.

“Pertanyaan besar yang saat ini kita hadapi bersama adalah menjawab pertanyaan, bagaimana menurunkan angka pengguna narkoba yang saat ini berjumlah 4 juta orang lebih, dan setiap tahunnya cenderung terus meningkat,” kata Kepala BNN, DR. Anang Iskandar, ketika ditemui di ruang kerjanya, Senin (27/1).

Selanjutnya, Anang menjelaskan, upaya dalam menyelesaikan permasalahan narkoba di Indonesia sudah banyak dilakukan, terutama oleh para penegak hukum, namun sampai saat ini pengguna narkoba belum berkurang bahkan cenderung bertambah, “Salah satu hal yang menyebabkan permasalahan tersebut belum dapat diselesaikan adalah pandangan masyarakat terhadap pengguna narkoba yang masih dicap sebagai pelaku kejahatan, sampah masyarakat, dan berbagai stigma negatif lainnya, sehingga mereka harus dihukum penjara,” jelas Anang.

Dampak dari pandangan ini, tambah Anang, mengakibatkan permasalahan narkoba tidak kunjung selesai, “Bahkan timbul masalah lainnya seperti beban lapas menjadi over capacity, lapas menjadi tempat “aman” bagi pengguna narkoba dan munculnya kejahatan lain yang diakibatkan oleh penggunaan narkoba di dalam lapas,” ujar Anang.

Menurut Alumni Akpol tahun 1982 ini, pengguna narkoba memiliki sifat adiksi dengan tingkat relaps atau kambuh yang tinggi, mereka tidak dapat pulih dengan sendirinya, “Mereka orang yang sakit yang perlu disembuhkan. Hal inilah yang sering tidak dipahami oleh masyarakat, sehingga muncul sikap atau pandangan yang berbeda dari masyarakat dan aparat penegak hukum dalam menyikapi para pengguna narkoba,” kata Anang.

Pandangan tersebut mengakibatkan timbulnya sudut pandang yang berbeda, disatu sisi ada yang berpendapat mengutamakan upaya penegakan hukum kepada pengguna narkoba agar mendapatkan efek jera, sedangkan disisi lain ada yang menginginkan rehabilitasi untuk mengurangi pasar, yang diasumsikan akan berpengaruh pada turunnya permintaan narkoba.

“Dari perbedaan pandangan tersebut, perlu mendapatkan perhatian kita bersama, agar kita dapat menyamakan persepsi terhadap bagaimana seharusnya memandang dan menangani pengguna narkoba. Mereka itu sudah kehilangan masa lalu dan masa kininya, jangan sampai mereka kehilangan masa depannya,” tandas mantan Gubernur Akpol ini.

Makna dari penyelamatan pengguna narkoba  adalah bentuk komitmen bersama untuk menyelamatkan pengguna narkoba yang saat ini masih bersembunyi dan mendorong serta meyakinkan mereka, keluarganya untuk melaporkan diri secara sukarela kepada institusi penerima wajib lapor (IPWL) agar memperoleh perawatan atau rehabilitasi, sehingga dapat menyongsong masa depan yang lebih baik dan tidak kambuh kembali, “Selain itu, penyelamatan ini juga ditujukan kepada aparat penegak hukum, dalam rangka menangani pengguna narkoba agar senantiasa berorientasi kepada penghukuman rehabilitasi (maatregel) terhadap pengguna narkoba demi menyelamatkan masa depan mereka. Hal ini sesuai dengan tujuan Undang – Undang Narkotika Nomor 35 Tahun 2009 yang harus dipatuhi dan dijalankan bersama,” terang Anang.

sumber : http://dedihumas.bnn.go.id/read/section/berita/2014/01/27/858/2014-tahun-menyelamatkan-pengguna-narkoba

 

 

 

 

Pusat Rehabilitasi Kementerian Pertahanan RI studi banding di Balai Besar Rehabilitasi BNN, Kamis (23/1). Rombongan diterima Deputi Rehabilitasi BNN, dr. Diah Setia Utami, SpKj, MARS, Kepala Balai Besar Rehabilitasi BNN, Dra. Yunis Farida beserta jajarannya. Dalam sambutannya Kepala Pusrehab yang diwakili oleh Kolonel Kes Wahyu Dwi Santosa, SMPh, SKM, MM, Kabag TU Pusrehab menyatakan bahwa Pusat Rehabilitasi Kemhan merupakan pusat rehabilitasi bagi penyandang disabilitas personil karena tugas. Program rehabilitasi terpadu di Pusrehab terdiri dari rehabilitas medis, vokasional, dan sosial. Program rehabilitasi ini bertujuan membentuk penyandang cacat menjadi insan yang mandiri dan produktif dengan pengusaan ilmu pengetahuan, teknologi dan keterampilan.

Dalam sambutannya, Deputi Rehabilitasi BNN, dr. Diah Setia Utami, SpKj, MARS selain pusat rujukan rehabilitasi, Balai Besar Rehabilitasi BNN Lido sudah siap untuk memfasilitasi magang  dari Kemenhan dan mengharapkan SDM yang dikirim yang benar-benar siap memberikan layanan pelaksanaan rehabilitasi para pecandu narkotika.

Program rehabilitasi di Pusat Rehabilitasi Kemhan dan Balai Rehabilitasi ada kemiripan. Di Pusrehab Kementerian Pertahanan ada 3 (tiga) rehabilitasi, yaitu rehabilitasi medis, vokasional dan sosial, sedangkan di Balai Rehabilitasi BNN kegiatan vokasioanal terdapat di rehabilitas sosial. Dalam diskusi tersebut, kegiatan vokasional inilah kedepannya menjadi kerjasama antara BNN dan Pusat Rehabilitasi Kementrian Pertahanan.

 

 

 

 

 

 

 

 

Kunjungan UKM GERMAN UM

 

            BNN mencanangkan 2014 sebagai waktu yang tepat untuk menurunkan angka prevalensi pengguna narkotika di Tanah Air.  Apalagi saat ini diperkirakan masih ada 4 juta prevalensi pengguna narkoba yang belum tersentuh proses rehabilitasi. Diharapkan dengan upaya ini, jumlah permintaan terhadap barang haram tersebut juga bisa menurun. Tahun 2014  adalah tahun untuk merehabilitasi atau menyelamatkan para pengguna dan pencandu narkoba.

Balai Besar Rehabilitasi BNN merupakan pusat rujukan nasional pelaksanaan  rehabilitasi para penyalahguna narkoba. Bertempat di Lido, Kabupaten Bogor, Balai Besar Rehabilitasi memberikanpelayanan rehabilitasi meliputi pelayanan rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial berbasis TC (Therapeutic Community) dengan motto pelayanan (Love, Innovative, Dignity, Optimististic). Program tersebut diantaranya bertujuan untuk merubah residen yang awalnya mal adaptif menjadi adaptif, negatif menjadi positif, serta tidak produktif menjadi lebih produktif kembali bersosialisasi di masyarakat.

Selain itu, Balai Rehabilitasi memfasilitasi magang, pengkajian, penelitian dan pengembangan rehabilitasi. Berbagai instansi maupun institusi dari berbagai daerah melakukan studi bunding maupun kunjungan di Balai Besar Rehabilitasi BNN. UKM German (Gerakan Mahasiswa Anti NAPZA) Universitas Negeri Malang berkunjung ke Balai Besar Rehabilitasi BNN, Kamis (16/1).  UKM GERMAN merupakan unit kegiatan mahasiswa yang bergerak di bidang pencegahan penyalahgunaan narkoba di lingkungan universitas pada khususnya, dan masyarakat pada umumnya.

            Melalui kunjungan ini, diharapkan menjadikan para mahasiswa menjadi kader nati narkoba baik di lingkungan kampus maupun masyarakat pada umumnya. Kegiatan yang sangat penting mengingat tujuan Indonesia Bebas Narkoba 2015 tidak hanya dapat dicapai oleh BNN beserta jajarannya, namun juga diperlukan peran serta dari masyarakat termasuk kader lapangan untuk pencegahan narkoba. Untuk mencapai tujuan tersebut baik pemerintah maupun masyarakat harus saling bahu membahu dalam usaha memberantas peredaran narkoba untuk menjaga generasi muda Indonesia yang merupakan aset sangat berharga bagi kelangsungan hidup bangsa di masa akan datang.

 

 

 

 

 

 

 

Mahasiswa PPG SM3T Jurusan Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Semarang (UNNES) mengadakan kunjungan di Balai Besar Rehabilitasi BNN, Kamis (16/1). Rombongan langsung di sambut dengan ramah oleh petugas Balai Besar seperti  konselor, dokter, dan psikolog.

“Inti dari kunjungan mahasisawa Universitas Negeri Semarang (UNNES) untuk mengetahui mengenai apa upaya dalam melakukan penangan khusus terhadap pengguna narkoba yang sedang menjalani rehabilitasi di Balai Besar Rehabilitasi BNN” , demikian disampaikan Pembimbing PKL, Ninik S.

Dalam kunjungan tersebut terlihat para mahasiswa sangat semangat serta antusias, 2 (dua) orang peserta kunjungan Ridwan dan Nur Liya Wiji Lestari mereka menyampaikan kesannya terhadap Balai Besar BNN serta berkeinginan menjadi salah satu terapis di Balai Besar BNN. Kasi Penunjang Rehabilitasi Sosial, Sholikhun, S.Ag, MH menerangkan bahwa guru khususnya guru Bimbingan dan Konseling bekerjasama dengan orang tua untuk bisa terus melakukan pengawasan terhadap aktifitas sang anak. Selain itu bisa juga dilakukan konseling sebagai langkah pencegahan anak tersebut lebih dalam untuk terjerumus narkoba.

Pertanyaan demi pertanyaan sudah di jawab dan dan peserta kunjungan merasa sangat puas dan setelah diskusi dan tanya jawab selesai, kunjungan diakhiri dengan doa bersama sebelum meninggalkan Balai Besar Rehabilitasi BNN mereka menyatakan bahwa sangat berharap hubungan baik antara PPG SM3T UNNES dengan Balai Besar Rehabilitasi BNN tidak hanya sampai disini semata akan tetapi akan terus berlanjut sehingga bisa tetap terus menjalin kerjasama untuk mencapai tujuan yang mulia yaitu Indonesia Bebas narkoba.

 

 

 

Kegiatan grup terapi dinamika kelompok residen Re-Entry, Mutiara dalam Guci, Kamis (22/8). Residen tampak sangat antusias dan bersemangat mengikuti kegiatan tersebut. Harapannya para residen terstimulasi kreatifitas dan ekspresi dalam berpendapat.  Kebersamaan dan kekompakan antar sesama residen melalui kegiatan tersebut diharapkan dapat memberikan dampak positif dalam proses recovery mereka.

 

Kegiatan Dinamika Kelompok diikuti oleh Residen Detoksifikasi dan Entry, "Mencari Dengan Diam", Kamis (22/8). Kegiatan ini bertujuan untuk melatih kemampuan mengobservasi dan memupuk inisiatif residen sehingga mendukung kegiatan pemulihan yang sedang dijalani para residen di Balai Besar Rehabilitasi.

 

Kegiatan asesmen dan terapi psikologi awal bagi residen fase detoksifikasi dan entry, (Selasa, 20/8). Kegiatan ini rutin dilakukan oleh staf psikolog untuk menilai gambaran psikologis residen dan psikoedukasi untuk membantu residen mengenali coping dari setiap permasalahan yang dihadapi dan mengenai pentingnya rehabilitasi dalam pemulihan yang sedang dijalani residen.

 

Salah satu terapi pendukung yang dilakukan dalam proses rehabilitasi di Balai Besar Rehabilitasi BNN adalah hipnoterapi. seperti kegiatan yang diikuti oleh residen fase detoksifikasi, Rabu,(21/8). Para residen dihipnosis oleh praktisi  hipnoterapi klinis profesional  dari Indonesian Association of Clinical Hypnotherapist (IACH).

Dalam waktu relatif singkat, para residen  terlihat sangat rileks dan nyaman. Mereka mengikuti instruksi yang diberikan oleh praktisi hipnoterapi klinis, Wiguna Kertopati. Tahapan dalam proses hipnoterapi meliputi tahap pre-induction, suggestibility test, induksi, relaksasi, membangun tempat kedaimaian,terapi dan terminasi. Salah seorang residen mengatakan setelah mengikuti kegiatan ini perasaannya rilleks dan tenang serta emosi yang negatif dapat dilepaskan.


Hipnoterapi adalah suatu cabang ilmu psikologi yang memperlajari manfaat sugestiti untuk mengatasi masalah pikiran, perasaan dan perilaku. Salah satu peran hipnoterapi bisa membebaskan sesorang dari ketergantungan narkoba. Diharapkan melalui kegiiatan ini mendukung pemulihan residen Balai Besar Rehabilitasi dalam program rehabilitasi.

 

 

Dalam keadaan normal tubuh mengatur keseimbangan antara energi yang diperoleh dari makanan dengan energi yang diperlukan tubuh, guna mempertahankan kelangsungan fungsi tubuh. Pada orang dewasa, dimana pertumbuhan tidak lagi terjadi kebutuhan zat-zat gizi lebih tergantung pada aktivitas fisiknya.

Seminar "Kebutuhan Gizi Orang Dewasa” dibawakan oleh ahli gizi Balai Besar Rehabilitasi , Selasa (20/8). Residen Primary House of Change antusias mengikuti seminar yang dibawakan ahli gizi, Eka Kartika Adi.

Dijelakan pada seminar tersebut faktor yang Mempengaruhi Keadaan Nutrisi Orang dewasa antara lain, tinggi badan, berat badan dan jenis kelamin, faktor aktivitas serta tingkat kesehatan. "Pola Menu Seimbang" jelasnya. Menu seimbang adalah menu yang  terdiri dari  beraneka ragam makanan  dalam  jumlah dan  porsi  yang  sesuai.  Sehingga memenuhi  kebutuhan gizi  guna pemeliharaan  dan perbaikan sel-sel tubuh yang rusak,  dalam proses kehidupan. Pola ini pun diterapkan di menu sehari-hari residen di Balai Besar Rehabilitasi.

Melalui seminar ini diharapkan  pengetahuan residen mengenai pentingnya gizi bertambah dan nantinya dapat diaplikasikan di kehidupan sehari-hari nantinya setelah para residen selesai program rehabilitasi.

 

 

Pembinaan Mental dan Moral Pegawai  merupakan bagian integral dari pembinaan Sumber Daya Manusia (SDM) secara keseluruhan. Pembinaan  kepada pegawai di instansi pemerintah  memegang peranan penting demi tercapainya pelaksanaan pelayanan  yang baik kepada masyarakat.

Bertempat di Gedung TC Balai Besar Reabilitasi BNN, Kepala Badan Narkotika Nasional, Komjen Pol Anang Iskandar memberikan pembinaan kepada para pegawai Balai Besar Rehabilitasi BNN,  Rabu (14/8). Arahan pimpinan  tersebut sebagai kegiatan silaturahmi dan Halal bi halal dengan para pegawai di lingkungan Balai Besar Rehabilitasi BNN.

Dalam arahannya, Kepala BNN, Komjen Pol Anang Iskandar, mengharapkan para staf dapat mengaplikasikan hikmah setelah berpuasa di Bulan Ramadhan. “Bagaimana cara berpikir dan berperilaku” jelasnya.

Lebih lanjut, beliau menambahkan, para pegawai dapat mampu membangun hati atas dasar cinta dan kemanusiaan serta  bekerja sama dengan meningkatkan kemampuan untuk melayani residen dalam proses rehabilitasi. 

 

 

 

 

 

Halaman 1 dari 6

Log-in

Who's Online

Kami memiliki 18 tamu dan tidak ada anggota online

YM Customer Service

Contact me by Yahoo! Messenger

Visitors Counter

112772
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
1551
3212
10800
100011
12761
0
112772

Your IP: 112.111.190.33
Server Time: 2014-12-19 09:07:24

Chat Box