Artikel
  • Register

Ganja Antara Narkoba dan Obat

Beberapa waktu yang lalu diskusi tentang ganja kembali menghangat setelah kasus Fidelis, seorang suami yang di tangkap aparat karena menanam ganja dan beralasan untuk pengobatan syringomyelia yang diidap oleh sang istri, terkuak. Kasus ini seolah menjadi momentum sekaligus amunisi bagi para penuntut legalisasi ganja. Aparat dianggap tidak manusiawi karena Fidelis menanam ganja untuk pengobatan istrinya, sementara pemerintah seolah dianggap tidak peduli terhadap penyakit yang diderita karena tidak menyediakan pengobatan yang memadai.

Pro dan kontra tentang legalisasi ganja ini sudah berlangsung sejak lama, pasang dan surut. Tak hanya di bumi pertiwi, namun juga di negara-negara lain, hal ini jamak ditemui. Sebutlah di Amerika Serikat, meskipun secara aturan federal, ganja merupakan narkoba golongan I, banyak negara-negara bagian yang melegalisasi ganja, ada yang memilih melegalkan untuk kepentingan rekreasional, ada yang melegalkan hanya pada medical mariyuana-nya saja, ada juga yang melegalkan keduanya. Tak pelak perbedaan-perbedaan ini, menimbulkan silang pendapat di tengah masyarakat kita. Bagi yang mendukung legalisasi, ganja dianggap seperti tanaman lain yang mempunyai manfaat-manfaat, baik untuk kepentingan industri ataupun terapi.

Sebaliknya bagi yang kontra legalisasi, ganja merupakan biang masalah, gerbang orang memakai narkoba lain, dan terdapat banyak efek samping yang ditimbulkan seperti gangguan jiwa, dan gangguan kognitif.

Lalu bagaimana sebenarnya peran ganja sebagai obat? Atau yang dikenal dengan medical mariyuana? National Institute on Drug Abuse (NIDA) di Amerika Serikat menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan medical mariyuana adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan tanaman ganja yang tidak diproses atau ekstrak dasarnya digunakan untuk terapi gejala penyakit atau kondisi tertentu. Food and Drug Administration (FDA) sendiri ternyata hingga sekarang belum menyetujui tanaman ganja yang tidak diproses digunakan sebagai obat. FDA hanya menyetujui beberapa obat yang mengandung cannabinoid. Agar suatu zat bisa digunakan sebagai obat, tentu saja membutuhkan tahapan yang panjang, dari animal study hingga clinical trial yang terbukti zat tersebut mempunyai manfaat, dan efek sampingnya (terutama efek jangka panjangnya) minimal.

Begitupula dengan ganja, ada pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab secara ilmiah, sebelum ganja tersebut dapat diakui sebagai obat. secara statistik, atau malah tidak ada hubungan sama sekali? Lalu sederet pertanyaan lanjutan seperti siapa yang berhak meresepkan, kualifikasi apa yang dibutuhkan, siapa yang menjual, haruslah juga jelas.

Pertanyaan mendasarnya adalah apakah betul ganja bermanfaat untuk mengatasi kondisi tertentu? Bagian mana dari ganja yang dapat digunakan, apakah bunga, daun, atau getahnya, ataukah hanya alkaloid-alkaloid tertentu dari ganja? Jika digunakan sebagai obat adakah efek samping yang terjadi, baik jangka pendek maupun jangka panjang? Bagaimana cara menggunakan ganja atau zat ganja tersebut? Apakah dirokok sebagaimana para pengguna ganja rekreasional, ataukah harus diubah menjadi bentuk lain seperti obat pada umumnya (pil, tablet, kaplet, cair, atau inhalasi). Pertanyaan lainnya adalah apakah hasil penelitian yang dihasilkan betul-betul ada hubungan sebab akibat, korelasi,  hanya bermakna secara statistik, atau malah tidak ada hubungan sama sekali? Lalu sederet pertanyaan lanjutan seperti siapa yang berhak meresepkan, kualifikasi apa yang dibutuhkan, siapa yang menjual, haruslah juga jelas.

Banyak para peneliti yang kemudian berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, sehingga banyak publikasi ilmiah yang kemudian hadir. US National Academy of Sciences, Engineering, and Medicine (NASEM) pada awal tahun 2017 ini mempublikasikan hasil review yang mendalam mengenai penggunaan ganja (cannabis) dan cannabinoid untuk tujuan pengobatan. Hampir 25000 penelitian didapatkan oleh NASEM, yang kemudian menyaring lagi dengan membatasi hanya pada penelitian randomized controlled trial (RCT), dan mengeluarkan penelitian-penelitian yang sifatnya laporan kasus atau yang tidak jelas desain dan analisis statistiknya. Dari proses itu tersaringlah hampir 11000 penelitian yang dianggap layak untuk menjalani review selanjutnya. Begitu juga US National Institute of Health (NIH) yang pada akhir Maret lalu mengadakan pertemuan ilmiah khusus untuk membahas cannabis dan cannabinoid.

Negara-negara bagian di Amerika Serikat yang melegalkan ganja untuk kepentingan pengobatan (baca : medical mariyuana) ternyata juga tidak mempunyai aturan yang betul-betul seragam. Ada negara bagian yang sama sekali tidak memperbolehkan cara mengkonsumsi medical mariyuana ini dengan cara dirokok seperti penggunaan ganja pada umumnya sebagaimana aturan di Minessota dan New York, ada juga negara yang memperbolehkan. Hal yang demikian tentu dapat menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat. Pada umumnya praktek medical mariyuana terdapat rambu-rambu yang harus dipatuhi, baik lisensi sang dokter yang meresepkan, umur yang diperbolehkan menggunakan medical mariyuana, hingga jenis penyakit yang dapat diberikan medical mariyuana.Meskipun begitu, ternyata keputusan negara-negara yang melegalisasi ganja baik untuk kepentingan medis maupun rekreasional kebanyakan adalah hasil jajak pendapat, bukan pertimbangan manfaat dan risiko. Secara aturan federal, ganja di US masuk dalam golongan satu yang dilarang untuk pengobatan, begitupula di Indonesia, dan konvensi PBB tentang narkotika dan psikotropika. Oleh karena itu kepemilikan ganja di Indonesia, sekalipun beralasan untuk tujuan medis, tidak dapat dibenarkan, bagi yang melanggar dapat dikenakan sanksi hukum.

Kampanye ganja dapat bermanfaat untuk kesehatan yang akhir-akhir ini digalakkan oleh beberapa kelompok dapat membawa konsekuensi negatif terutama pada remaja, apalagi jika tidak dijelaskan secara komprehensif level evidencebased ganja medis ini. Pada beberapa kasus di sekolah, ada murid yang tertangkap memakai ganja, dan ketika ditanya mengapa memakai justru menjawab ganja bermanfaat untuk kesehatan. Padahal sebaliknya, pemakaian ganja pada remaja akan membawa konsekuensi serius terutama efek terhadap kognitif. Oleh karena itu ditengah terbukanya lalu lintas informasi saat ini, masyarakat harus selektif dan meluaskan pandangan di dalam menerima informasi, sehingga pada akhirnya mendapat kebenaran yang hakiki.

Kedudukan, Tugas Pokok, dan Fungsi

Tanggal 31 Oktober 1974 diresmikan oleh Ibu Tien Suharto, realisasi Bakolak Inpres No: 6 Tahun 1971 sebagai Pilot Project DKI Jakarta, dengan nama Wisma Pamardi Siwi yang berfungsi sebagai tahanan wanita & anak-anak nakal sebelum diperkarakan / diajukan ke pengadilan.